TRENDING

Hasyim Apresiasi SMSI, Tegaskan Pentingnya Pers Berbasis Data dan Fakta

4 menit membaca View : 42
Udhin Editor

JAKARTA — Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) mengukuhkan Pokja Newsroom Jaga Desa sebagai langkah strategis memperkuat peran pers dalam mengawal pembangunan desa. Program tersebut menjadi bagian dari komitmen SMSI untuk ikut merawat desa sebagai bagian dari upaya merawat Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pengukuhan berlangsung di Hall Dewan Pers, Kebon Sirih, Jakarta, dan dirangkaikan dengan dialog nasional. Lima provinsi ditetapkan sebagai pilot project, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

Ketua Umum SMSI Pusat Drs. Firdaus, M.Si., mengatakan desa harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam pembangunan nasional, bukan sebagai entitas yang dinomorduakan. “Saya setuju desa menjadi garda depan dan etalase negara, tidak menjadi entitas yang dinomorduakan,” ujar Firdaus.

Menurutnya, keberadaan Pokja Newsroom Jaga Desa merupakan bentuk nyata komitmen SMSI untuk mendorong media ikut memberikan perhatian terhadap dinamika dan pembangunan di tingkat desa.

Firdaus mengatakan lima provinsi yang dikukuhkan menjadi tahap awal sebelum program tersebut dikonsolidasikan secara lebih luas. “Lima provinsi ini menjadi pilot project SMSI, namun dalam waktu dekat akan dilakukan konsolidasi secara serentak di seluruh provinsi,” katanya.

Pengukuhan Pokja Newsroom Jaga Desa berlangsung di tengah situasi informasi yang dinilai penuh dengan simpang siur terkait eskalasi demonstrasi di Jakarta. Kehadiran Hasyim S. Djojohadikusumo sebagai keynote speaker dalam dialog nasional sekaligus menjadi kesempatan untuk memberikan gambaran mengenai kondisi Jakarta.

Hasyim mengapresiasi kegiatan yang digelar SMSI dan mengaku hadir karena mempercayai komitmen organisasi tersebut. “Saya percaya SMSI, saya mengapresiasi kegiatan ini karena itu saya datang,” ujar Hasyim.

Menurut Hasyim, kegiatan tersebut sekaligus memberikan konfirmasi bahwa kondisi Jakarta tetap aman dan kondusif. “Ini bukan hanya konfirmasi, tetapi testimoni nyata di sini (Jakarta-red) aman dan kondusif. Selamat SMSI, ini kegiatan positif dan sangat bagus,” katanya.

Namun, Hasyim juga mengingatkan media agar tidak menyampaikan informasi secara sepotong-sepotong atau keluar dari konteks. “Jangan menjadi pers yang menyesatkan. Sampaikan informasi secara utuh dengan data dan fakta,” tegasnya.

Ia menilai informasi yang dilepaskan dari konteks dapat menimbulkan distorsi, termasuk terhadap kebijakan pemerintah yang sedang menjadi prioritas.

Hasyim yang dikenal sebagai pengusaha di berbagai sektor sekaligus salah satu penasihat ekonomi Presiden itu mengatakan, pihaknya juga telah mengagendakan dialog dengan sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), di antaranya BEM Universitas Indonesia, Universitas Gadjah Mada dan Institut Teknologi Bandung.

Dialog tersebut diharapkan menjadi ruang untuk mendapatkan masukan sekaligus kritik dari kalangan mahasiswa. Hasil dialog nantinya akan menjadi bahan masukan, koreksi dan rekomendasi bagi pemerintah. “Sebagai penasihat Presiden, masukan-masukan dari kampus akan kami sampaikan dan rekomendasikan kepada Presiden untuk pembenahan,” ujarnya.

Menurut Hasyim, komunikasi antara pemerintah dengan kalangan kampus penting agar berbagai aspirasi dapat disampaikan secara langsung dan menjadi bahan evaluasi dalam perumusan kebijakan.

Dalam kesempatan tersebut, Firdaus juga menyampaikan perhatian terhadap kondisi Gedung Dewan Pers yang dinilai sudah kurang representatif untuk menunjang aktivitas komunitas pers Indonesia.

Firdaus menilai gedung tersebut memiliki posisi penting karena menjadi pusat berbagai aktivitas Dewan Pers sekaligus salah satu episentrum kehidupan pers nasional. “Di tempat ini Dewan Pers bermarkas, segala kegiatan Dewan Pers digerakkan dari gedung ini, tetapi konstituen belum bisa diakomodir. Jadi mereka (konstituen) terpisah-pisah sesuai dengan kondisi masing-masing,” ungkap Firdaus.

Usulan tersebut mendapat respons positif dari Hasyim. Ia menyatakan akan menindaklanjuti persoalan tersebut dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). “Sayang saya baru dapat masukan ini sekarang. Kemarin baru saja bertemu dan dialog panjang lebar dengan Menkomdigi, Meutya Hafid,” ujar Hasyim dan langsung mendapat aplaus dari peserta yang hadir.

Pengukuhan Pokja Newsroom Jaga Desa dihadiri lebih dari seratus peserta dan undangan. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan dialog nasional yang menghadirkan sejumlah narasumber, di antaranya Prof. Dr. Achmad Riyad U.B., Ph.D., Dewan Penasihat SMSI Jawa Timur, serta pakar ekonomi dan perbankan.

Dialog berlangsung dengan berbagai tanggapan dan pandangan kritis mengenai persoalan pers, ekonomi dan pembangunan. Diskusi dipandu Prof. Dr. Albertus Wahyu Rudhanto, yang juga disebut sebagai guru besar dari PTIK.

Melalui Pokja Newsroom Jaga Desa, SMSI menegaskan komitmennya untuk memperkuat peran media dalam mengawal pembangunan di tingkat desa. Desa tidak hanya dipandang sebagai objek pembangunan, tetapi juga sebagai bagian penting dari wajah dan masa depan Indonesia. (din)

Bagikan Disalin

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

x
x